Serayupos.com – Pekan kedua Oktober 2026 menjadi minggu yang gaduh untuk dunia teknologi. Sejumlah nama besar Wall Street dan lembaga keuangan global kompak menyuarakan peringatan yang sama: pesta belanja kecerdasan buatan (AI) yang berlangsung dua tahun terakhir mungkin sedang berubah menjadi gelembung.

Gelembung berarti harga aset naik jauh melampaui nilai wajarnya karena ekspektasi berlebihan, lalu pecah ketika kenyataan mengejar. Dunia teknologi pernah mengalaminya pada gelembung dot-com awal 2000-an.

Rentetan peringatan dari nama-nama besar

Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, pada 8 Oktober 2026 menyebut booming AI sebagai “classic bubble” yang mendekati titik pecah. Pernyataan itu ia sampaikan di Forbes Global CEO Conference di Singapura dan dalam wawancara Julia La Roche Show. Dalio dikenal lewat analisis siklus ekonominya.

Lima hari kemudian, Dana Moneter Internasional (IMF) menerbitkan Global Financial Stability Report dengan peringatan senada: pesta belanja AI bisa berakhir pahit, dengan dampak yang melampaui sektor teknologi. Menurut IMF, para raksasa teknologi kini menanggung utang miliaran dolar, sementara investor menumpuk di segelintir perusahaan yang sama.

IMF juga menyoroti “circular financing”: perusahaan-perusahaan AI saling menjadi investor, pemberi pinjaman, sekaligus pelanggan satu sama lain, dengan janji pendapatan senilai 1,4 triliun dolar AS menurut hitungan IMF, padahal uangnya hanya berputar di lingkaran yang sama.

Hock Tan, CEO Broadcom, menambah panas suasana. Ia menyebut sebagian investor AI “tidak tahu apa yang mereka investasikan” dan menyamakan atmosfer pasar dengan kasino. Komentar itu menjadi salah satu pemicu aksi jual saham chip pada 12-13 Oktober. Bank for International Settlements (BIS) bahkan sudah memperingatkan sejak Juni bahwa booming AI mirip gelembung finansial di masa lalu.

Pasar langsung bereaksi: saham chip anjlok