Serayupos.com – Di sebuah sudut Desa Rendeng, Kudus, sebuah kaleng biskuit bekas berubah fungsi. Bukan lagi wadah kue, melainkan tabung pemanas yang mengubah sampah plastik menjadi cairan yang diklaim setara bensin. Perakitnya, Benny Haryanto, tidak punya gelar insinyur. Ia pengelola bank sampah yang gelisah melihat plastik menumpuk di tempatnya bekerja.

Cerita Benny muncul hampir bersamaan dengan kabar dari Semarang. Tim Fakultas Teknik Universitas Diponegoro memperkenalkan Dipofuel Generasi Ketiga, mesin pirolisis seberat tiga ton yang mampu mengolah 200 kilogram plastik dalam sekali produksi. Dua kabar dari dua ujung yang berbeda, mengandalkan prinsip yang sama: memanaskan plastik tanpa oksigen hingga berubah wujud menjadi bahan bakar.

Kaleng Biskuit yang Berubah Jadi Pabrik Mini

Benny Haryanto berusia 49 tahun. Ia mengelola Bank Sampah Karya Lestari di Desa Rendeng, Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Setiap hari ia melihat plastik datang bertumpuk-tumpuk dari warga. Gagasan untuk mengolahnya muncul setelah ia menonton video tentang teknologi pengubahan plastik menjadi bahan bakar.

Selama sekitar dua minggu, ia merakit prototipe dari barang-barang yang sudah tidak terpakai: kaleng biskuit, kaleng obat nyamuk, toples, galon, dan oli bekas. Tidak ada komponen mahal. Semua ia rangkai sendiri di rumah.

“Saya tertarik untuk melakukan inovasi mengubah plastik ini menjadi bensin. Walaupun sampai saat ini masih dalam tahap percobaan,” kata Benny seperti dilaporkan Kompas.com pada 12 Oktober 2026 (dikutip Lensa Hukum).

Uap, Es, dan Tetesan Minyak

Prinsip yang dipakai Benny bernama pirolisis. Sederhananya begini: plastik pada dasarnya terbuat dari minyak bumi, berupa rantai molekul panjang yang disebut polimer. Jika plastik dipanaskan dalam ruang tertutup tanpa oksigen, ia tidak terbakar. Rantai panjangnya justru terputus menjadi molekul-molekul pendek yang keluar sebagai uap. Uap itu, bila didinginkan, mengembun kembali menjadi cairan mirip minyak.